Kisah Para Bonek Pertaruhkan Nyawa

SURABAYA – Bondho Nekat, inilah akronim yang disandarkan bagi para suporter Persebaya Surabaya. Dari namanya saja sudah ada kata “nekat”, maka wajar saja jika apapun dilakukan agar bisa menyaksikan tim mereka bertanding. Bahkan nyawa siap dipertaruhkan.

Seperti dituturkan Reza Wilianto, bonek yang mengaku hanya memegang Rp100 ribu di kantong untuk pergi ke Bandung.

Siswa kelas 3 sebuah SMP swasta di Surabaya itu mengaku mengalami pengalaman tak terlupakan karena kereta api yang dinaiki rombongannya diserang sekumpulan massa di daerah Solo Jawa Tengah.

Petualangan Reza dimulai pada Kamis, 21 Januari lalu. Reza bersama kakaknya Erwin Wilianto (24) memutuskan ikut bergabung dengan bonek lainnya ke Bandung. Dari rumahnya di sekitar Wonokromo, Surabaya, Reza, Erwin, dan sekira sembilan orang Bonek di kampungnya berangkat menuju ke Stasiun Pasar Turi Surabaya sekira pukul 21.00 WIB.

Dasar bonek, untuk menuju stasiun pun rombongan Reza tidak mau keluar uang. Mereka lebih memilih untuk nggandhol (menumpang) mobil-mobil bak terbuka atau truk yang menuju ke arah Stasiun Pasar Turi. Bukannya tak punya uang, Reza sebenarnya dibekali orangtuanya uang Rp100 ribu.

Namun apa artinya uang sebesar itu dibandingkan dengan ongkos perjalanan ke Bandung dan akomodasinya. Apalagi sudah menjadi trade mark bagi bonek untuk selalu nggandhol beramai-ramai saat akan menuju stadion.
Sampai di Stasiun Pasar Turi, ternyata sudah ada ribuan bonek lain. “Kami masuk begitu saja karena penjagaan tidak ketat. Apalagi sudah banyak bonek lainnya yang sudah menunggu di Stasiun Pasar Turi,” ungkap Reza yang ditemui di sekitar Stadion Gelora Sepuluh Nopember Tambaksari Surabaya, Selasa (26/01/2010).

Setelah sekian lama menunggu, pukul 03.30 WIB KA Pasundan mengangkut rombongan menuju Bandung. Para bonek ini tak dipungut biaya. Seingat Reza, jika tak salah hitung ada sekira 12 gerbong yang terangkai pada saat itu. Semuanya terisi penuh oleh bonek. Tak hanya dalam gerbong, tapi juga meluber di atap-atap gerbong.

“Penumpang umum lainnya sampai membatalkan berangkat karena ada rombongan bonek. Saat berangkat saya berada di atap kereta,” tuturnya.

Kebetulan kereta Pasundan yang dinaiki Reza ini melewati jalur selatan seperti Madiun, Solo Yogyakarta dan kota-kota lainnya. Awalnya perjalanan aman-aman saja. Namun saat mendekati Solo, para penumpang yang berada di atap disuruh turun oleh polisi.

“Ternyata mau masuk Solo kami diserang oleh suporter Pasopati. Padahal kami tidak ada persiapan karena sebelum masuk kereta sudah digeledahi sama polisi,” ujar Reza.

Akhirnya prak, prak, prak suara hantaman batu membentur gerbong dan kaca terdengar bersahut-sahutan. “Kurang lebih selama setengah jam kami menerima. Kami hanya tiarap di dalam gerbong tanpa bisa membalas,” ujarnya.

Selepas Solo saat memasuki Sleman, mereka merasa aman karena lemparan batu sudah berhenti.

Tiba di Bandung Jumat malam, suasana relatif tenang. Tidak ada kerusuhan yang dilakukan para Bonek maupun pendukung Persib Bandung yang dikenal Bobotoh.

Usai pertandingan, sebagian Bonek langsung pulang ke Surabaya. Yang membedakan dengan berangkat, kepulangan merela dilakukan secara bergelombang. Kebetulan Reza menumpang Kereta Luar Biasa gelombang pertama yang disediakan khusus bagi para Bonek.

Dia menuturkan untuk yang satu ini, sama dengan saat berangkat. Para Bonek mendapat sambutan berupa lemparan batu di beberapa lokasi. Bahkan saat kereta memasuki wilayah Jawa Timur yang nota bene wilayah mereka pun, warga masih melempari batu.

Menurut Reza, kelompoknya dilempari batu sejak memasuki wilayah Solo, Jawa Tengah. “Bahkan kali ini, serangan itu lebih lama dibandingkan saat berangkat,” kisahnya.

Mereka pun hanya bisa pasrah. Tak hanya itu, sebelum masuk ke dalam kereta, polisi merazia barang bawaan sehingga mereka tidak bisa membalas lemparan batu. “Kami tidak bisa balas hanya bisa tiarap di dalam gerbong,” ujar Reza.

Reza menuturkan dalam gerbong salah satu penumpang yang dikenalnya, Cak Romli mengalami bocor di kepala saat kereta melintas di Solo. “Kami hanya diam saja tidak bisa membantu,” kisahnya.

Sesampainya di Madiun Romli baru mendapatkan perawatan. Dia terpaksa ditinggal dan ikut gelombang berikut yang di belakangnya.
 
Menurut Pembina Suporter Surabaya (YSS), ada tiga Bonek yang tewas selama perjalanan berangkat dan pulang dari Bandung.  Ketiganya bukan tewas karena bentrokan, namun jatuh dari kereta api. Satu di antaranya tewas saat berangkat dan dua lainnya saat pulang. Korban pertama jatuh di daerah Nganjuk, Jawa Timur. Sementara yang lain di daerah Banyumas, Jawa Tengah.
 
YSS juga mencatat Bonek yang mengalami luka-luka akibat lemparan batu mencapai 64 orang. Para korban luka itu dirawat di RSUD Dr Mawardi Solo, RS Bethesda Yogyakarta, dan RSU dr Soetomo Surabaya. Tak hanya itu, YSS juga mencatat Bonek yang belum kembali ke rumahnya. Hingga kemarin YSS mencatat 16 orang yang belum jelas nasibnya. (ton)