Kesibukan Penjaga Pintu Air Saat Musim Hujan Tiba

JAKARTA – Musim hujan sekarang ini tak hanya menyibukkan warga Jakarta yang tinggal di daerah rawan banjir seperti di bantaran Kali Ciliwung, Yang tak kalah repot adalah petugas penjaga pintu air.
 

Mereka tak boleh lengah sedikit pun memantau ketinggian air karena berpotensi merendam rumah warga dan yang paling parah, menelan korban jiwa.

 
Ibnu (30) misalnya, penjaga pintu air Manggarai, Jakarta,  ini mengaku harus mengangkat telepon hingga ratusan kali jika musim hujan tiba. Biasanya yang menelepon adalah pejabat, anggota masyarakat dan yang paling sering wartawan.
 
“Saya mendadak jadi artis terkenal hahaha. Pertanyaanya sama. Ketinggian air berapa,” kata Ibnu saat ditemui Okezone, Sabtu (13/2/2010) malam. Dia lantas menyeruput secangkir kopi dan menghisap rokok.
 
Dia menuturkan, jika sedang musim hujan, petugas yang bertugas berjumlah 5 orang sementara kalau musim kemarau hanya 2 orang. Mereka berjaga selama 24 jam penuh.
 
“Kami juga terus berkoordinasi dengan penjaga di Katu Lampa Bogor dan Depok. Karena kalau di sana debit air tinggi, Jakarta bisa banjir,” ujarnya.
 
Tiap kenaikan debit air kemudian dilaporkan kepada aparat terkait sehingga bisa mengambil tindakan yang dianggap perlu. Contohnya, mengingatkan warga dan bila perlu mengevakuasi mereka ke tempat yang lebih aman jika banjir akan tiba.
 
Sesuai dengan prosedur, jika ketinggian air masih di bawah 750 cm (siaga IV) , Ibnu melaporkan keda mantra Pintu Air Manggarai.
 
Jika tinggi air mencapai 800 cm (siaga III), laporan harus disampaikan kepada komandan operasional dinas Bagian Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.
 
Namun kalau air terus naik mencapai 950 cm (siaga II) laporan harus disampaikan kepada Kepala Dinas PU. “Kalau di atas 1 meter (siaga 1) melapor ke gubernur,” katanya. (abe)(hri)