Keluarga Tak Ingin Ada Patung Gus Dur

SEMARANG – Alissa Qotrunnada Munawarah, putri sulung almarhum Abdurrahman Wahid menanggapi munculnya karya patung KH Abdurrahman Wahid yang menyerupai Buddha Gautama.
 

“Itu salah satu keunikan Gus Dur bahwa banyak orang memiliki hubungan yang sifatnya personal. Banyak orang mempunyai cara unik mengekspresikan semangat Gus Dur dalam dirinya,” jelas Alissa Wahid sebelum mengikuti Deklarasi Pluralisme dan Humanisme Gus Dur, di Taman Budaya Raden Saleh Semarang, Rabu (17/2/2010).

 
Patung yang dibuat Cipto Purnomo (29) dari Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) itu berjudul “Mata Hati Gus Dur” dan menyerupai tubuh Buddha Gautama sedang bersemedi.
 
Wajahnya berujud Gus Dur dan di dada ada lubang lampu warna hijau. Patung nyeleneh itu dirilis di Studio Mendut dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Gus Dur.
 
Patung itu menuai protes dari Dewan Pengurus Pusat Pemuda Theravada Indonesia (DPP Patria). Patung itu dianggap melecehkan karena menyerupai Buddha.
 
Alissa mengaku tak tahu ada patung itu. Keluarga Gus Dur tahu dari media massa.
 
“Kami juga tidak dihubungi oleh senimannya. Tapi saya yakin ini berangkat dari sekedar hasrat untuk mengekspresikan rasa memiliki Gus Dur dan bukan karena berniat macam-macam. Sampai sekarang pun saya belum pernah ketemu senimannya,” papar Alissa Wahid yang datang bersama Umar Wahid, adik Gus Dur.
 
Namun Alissa mengaku khawatir munculnya pengkultusan terhadap Gus Dur.
Tapi dia percaya masyarakat Indonesia cukup arif memilih cara mengekspresikan cintanya pada Gus Dur.
 
Di waktu yang sama Dr. Nelwan, penggagas Gus Dur Center menyatakan memang banyak orang khususnya dari etinis Tionghoa yang ingin membuat patung Gus Dur. Dalam tradisi Tionghoa memang wajar jika mengekspresikan rasa menghormati seseorang dengan membuat patung.
 
“Tapi keluarga Gus Dur tidak ingin itu dilakukan. Mereka tak ingin muncul pengkultusan terhadap Gus Dur,” kata Nelwan.
 
Dia mengarisbawahi bahwa yang paling penting dilakukan adalah melanjutkan cita-cita luhur Gus Dur.”Melanjutkan cita-cita Gus Dur lebih penting daripada membuat patung,” tegasnya. (fit)