Kekerasan terhadap Pers Meningkat

BOGOR – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN)  harus digunakan sebagai momentum kebangkitan para jurnalis di Indonesia. Kebangkitan yang dimaksud di antaranya menjadikan pers sebagai pilar demokrasi keempat di Indonesia.

“Wujudnya berupa kontrol sosial dan membantu pembangunan daerah khususnya di Bogor. Namun pers juga mempunyai permasalahan yang sering dihadapi saat ini terutama kriminalisasi pers yang sering menimpa wartawan.  Dalam setahun ini jurnalis Bogor sudah tigak kali menjadi korban kekerasan di antaranya Iman (Megaswara), Rico Simanjuntak (Radar Bogor), dan Yopri  (RRI Bogor),” kata Dedi Jumhana, Humas FWHB, Selasa (9/2/2010).

Menurutnya angka kekerasan terhadap wartawan di Bogor akan menjadi perhatian khusus. “Kami mengharapkan kepada masyarakat agar pers jangan dijadikan musuh, tapi harus dijadikan sahabat. Tidak hanya kekerasan pada wartawan, teman-teman pers di Bogor sering menghadapi permasalahan dalam menjalankan tugas seperti sulitnya meminta keterangan dari narasumber karena pers dianggap musuh bagi narasumber,” ujarnya.Padahal, lanjut Dedi, justru pers akan menjadi jalan keluar dari permasalahan tersebut. “Di balik semua kelebihan dan kekurangan yang dimiliki pers, kita sebagai wartawan harus tetap memegang kode etik jurnalistik dan profesional dalam menjalankan tugas kita sebagai pemberi informasi kepada masyarakat,” pungkasnya.(mbs)