Kejagung Tuntutan Hukuman Mati Sigid Sesuai Fakta

JAKARTA – Kejaksaan Agung menanggapi upaya keluarga terdakwa Sigid Haryo Wibisono yang mengadukan jaksa penuntut umum ke Komisi Kejaksaan, terkait tuntutan hukuman mati terhadap Sigid.
 

 

Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Didik Darmanto, pihaknya menilai bahwa apa yang dilakukan JPU terhadap Sigid sudah memenuhi fakta yang didapat dalam persidangan
 
“Tim jaksa penuntut umum melakukan penuntutan berdasarkan fakta persidangan. Fakta persidangan dikaji, apa yang diperoleh baik dari keterangan saksi, ahli petunjuk-petunjuk dalam fakta persidangan,” ujar Didik di Kompleks Kejaksaan Agung, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta, Rabu (10/2/2010).
 
Didik menjelaskan, bila ada pihak lain yang berbeda pendapat sangatlah dimaklumkan dan meminta kepada seluruh masyarakat agar menyaksikan persidangan secara langsung untuk dapat memastikan apakah jaksa merekayasa atau tidak
 
“Silakan mengikuti secara lengkap proses persidangan, toh itu juga direkam. Bagaimana mau merekayasa, kan sudah ada rekamannya,” tuturnya.
 
Mengenai aduan jaksa yang dianggap profesional, Didik menuturkan bahwa pihak kejakasaan melalui jaksa agung muda pengawas (jamwas) akan melakukan proses eksaminasi kepada jaksa yang dianggap menyimpang dalam menjalankan profesinya
 
“Setelah dilakukan eksaminasi akan dilihat, ditentukan ada atau tidak penyimpangan pelanggaran profesi Kalau terjadi penyimpangan maka akan dilakukan rekomendasi, penyimpangan itu terjadi karena apa. Perilaku yang menyimpang itu bukan masalah mampu atau tidaknya jaksa,” pungkasnya.
 
Seperti diketahui, keluarga terdakwa kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Sigid Haryo Wibisono pada Rabu 9 Februari bertandang ke Komisi Kejaksaan untuk mengadukan dugaan pelanggaran profesionalitas yang dilakukan jaksa penuntut umum.
 
Ada dua hal yang dianggap pihak Sigid penuh kejanggalan. Pertama, dikatakan bahwa Sigid bertemu dengan terdakwa lainnya, Jerry Hermawan Lo dan eksekutor Hendrikus. Padahal, lanjutnya, hal ini tidak ada dalam berkas acara pemeriksaan (BAP).
 
Kedua, tambahnya, baju korban tidak pernah dihadirkan dalam persidangan. Padahal itu bisa membuktikan bahwa Nasrudin dibunuh dalam keadaan berdiri, atau tidur. Selain itu pihak Sigid merasa JPU memaksakan tuntutan. (lsi)