Kejagung Tetapkan Tersangka Baru Pembobolan BRI

JAKARTA – Kejaksaan Agung menetapkan seorang tersangka baru kasus pembobolan BRI Banten. setelah sebelumnya sudah menetapkan empat tersangka.
 
 

Ada pun empat tersangka yang lebih dahulu ditetapkan yaitu Asri Uliya (mantan pimpinan Cabang BRI Syariah Serang, Banten), Amir Abdullah (Direktur Utama PT Nagari Jaya Sentosa (NJS)), Muhammad Sugirus (Direktur PT Javana Artha Buana, Komisaris Utama PT NJS), dan Dedih Wijaya (Karyawan BRI Cilegon).

 
Keempat tersangka itu dijerat Pasal 2 dan Pasal 3 Undang Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan sangkaan pasal penyuapan.
 
Sedangkan satu nama baru yang menyusul menjadi tersangka dalam kasus ini adalah Deni Kurniawan.
 
Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Marwan Effendy mengatakan, tersangka baru tersebut berperan sebagai makelar yang mengumpulkan orang-orang yang kartu identitas (KTP)-nya digunakan untuk memenuhi syarat pengajuan kredit pada Bank BRI tersebut.
 
“Dia yang mengumpulkan KTP untuk pengajuan kredit,” ujar Marwan kepada wartawan di kantornya, Kompleks Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Kamis (21/1/2010).
 
Marwan menjelaskan, tersangka baru itu kini masih dalam tahap penyidikan oleh Kejaksaan Agung. “Masih penyidikan,” tegasnya.
 
Marwan pun memastikan bahwa empat tersangka yang sudah ditetapkan oleh Kejaksaan kini sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Serang, Banten. “Sudah dilimpahkan ke PN Serang, dan sedang dalam proses ke pengadilan,” imbuhnya.
 
Soal kemungkinan Kejaksaan akan memeriksa Direksi BRI, Marwan enggan berkomentar. Marwan mengatakan total kerugian mencapai Rp229 miliar. Angka tersebut merupakan hitungan resmi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
 
“Sekitar itu, karena total lost yang dijadikan dasar perhitungan BPKP,” tegasnya.
 
Kasus ini berawal pada 2006-2007. Kala itu pihak BRI mengadakan perjanjian kerjasama dengan PT NagariJaya Santosa (NJS) dan PT Javana Artha Buana (JAB).
 
Perjanjian tersebut ditujukan untuk pemberian fasilitas kredit kepemilikan kios kepada Plaza Nagari Minang, Pasar Baru Bantar Gebang, dan rumah tinggal Alea Cilandak Town House. Ketiga gedung itu lantas dibangun oleh kedua perusahaan ini untuk selanjutnya dijual kepada BRI.
 
Perjanjian tersebut menyebutkan bahwa pihak swasta wajib mencari calon nasabah yang akan mendapatkan pembiayaan rumah tinggal. Kedua perusahaan tersebut juga bertindak sebagai penjamin. Pihak swasta memperoleh 438 nasabah (125 untuk Pasar Baru Bantar Gebang, 198 untuk Plaza Nagari Minang, dan 15 orang untuk Alea Town House).
 
Lantas dengan dalih berlibur ke Anyer, para nasabah diminta menyerahkan fotokopi identitas dan dipaksa menandatangani permohonan kredit ke BRI Syariah Serang. Setiap orang mendapat imbalan Rp50 ribu-150 ribu.
 
Nasabah juga dipaksa membuat surat pernyataan peminjaman nama dan data-data kepada PT NJS untuk akad kredit pembiayaan tersebut.
 
BRI Syariah kemudian langsung memproses permohonan pembiayaan tersebut, dengan menggunakan data fiktif calon nasabah sebanyak 438 orang dengan total pokok pembiayaan mencapai Rp 226 miliar. (lsi)