Kaderisasi Mandeg, Politisi Kutu Loncat Beraksi

JAKARTA – Fenomena “kutu loncat” atau politisi yang “lompat pagar” merupakan kondisi sangat memprihatinkan akibat mandegnya kaderisasi di partai politik. Pada akhirnya, ideologi politik menjadi absurd karena tergerus pendekan partai yang pragmatis atau instan.

“Memang ini satu fenomena memprihatinkan dari sisi mandegnya kaderisasi di intenal partai politik sehingga elit partai mengambil jalan pintas, yakni membuka diri bagi masuknya siapa pun,” kata pakar politik dari Universitas Indonesia, Kamarudin kepada okezone, Minggu (31/1/2010).

Apa yang diutarakannya menanggapi pernyataan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie yang mengatakan, partainya harus menjadi partai terbuka. Menurut Aburizal, semua orang yang ingin masuk Golkar harus diterima dari manapun asalnya, termasuk pindahan dari partai lain.

Kamarudin berpandangan, dalam kosteks “kutu loncat” ini dapat dikatakan ideologi politik parpol menjadi absurd karena pertimbangan pintas tersebut. “Ini semakin membuktikan apa yang disebut budaya jalan pintas, secara instan untuk menapak ke posisi strategis di dunia politik,” paparnya.

Dia mengatakan, parpol akhirnya melakukan kalkulasi politik secara simpel dengan mengambil pihak luar untuk dijadikan kader partai tanpa jenjang kaderisasi. Kebijakan seperti itu ujungnya memberikan peluang siapa pun dengan gampangnya keluar-masuk partai.

Padahal, parpol semestinya meragukan loyalitas kader baru yang diserap dari luar tanpa melalui proses kaderisasi. Hal ini, ungkap Kamarudin, sangat memprihatinkan, padahal partai intinya miniatur negara. Parpol menjadi lembaga eksperimen politik sebelum seorang politisi mengurus negara.

“Kalau parpol diisi dengan kader atau pemimpin bergaya pragmatis, maka bagaimana jadinya ketika sudah menduduki jabatan di lembaga negara. Wajar bila saat ini Indonesia banyak masalah karena banyak politisi kutu loncat,” terang pakar politik yang mendalami bidang partai politik di Indonesia, pemilu, dan pilkada itu.

Menurut Kamarudin, sebuah partai politik biasanya memiliki kriteria untuk menjaring kader dari luar. Salah satunya adalah pertimbangan uang, di samping pengalaman atau mempunyai latar belakang militer. Namun ada juga parpol yang menerapkan kombinasi dari berbagai aspek.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie dalam Silaturahmi Akbar Partai Golkar di Gedung Nirwana, Bintan, Kepulauan Riau, kemarin, mengungkapkan partainya harus menjadi partai terbuka. Siapa pun yang ingin masuk Golkar harus diterima dari manapun asalnya, termasuk pindahan dari partai lain.

“Golkar akan jadi partai terbuka. Jangan menutup partai ini dengan tidak menerima kader lain yang ingin masuk partai Golkar,” ujar Aburizal Bakrie. (ram)