Jika Polisi Cepek Terinspirasi Presiden Soeharto

SURABAYA – Polisi cepek atau orang yang mengatur lalu lintas dengan mengharapkan imbalan dari pengguna kendaraan, biasa kita temui di sejumlah perapatan atau pertigaan. Namun polisi cepek satu ini punya kebiasaan aneh.

Sutrisno, namanya. Kalau polisi cepek umumnya paling banter melengkapi diri dengan topi atau kaos lengan panjang untuk sekadar melindungi dari matahari, Sutrisno tidak tanggung-tanggung. Dia sering terlihat menggunakan kostum yang aneh-aneh. Mulai dari kostum Tentara Romawi, hingga berpakaian ala Pejuang 45.

“Pakaian atau kostum yang saya kenakan selama di jalan, itu sudah tidak terhitung jumlahnya, sudah lupa saya. Mungkin jumlahnya mencapai 5 ribu baju, dari pakaian dalam negeri maupun luar negeri,” kata Sutrisno, yang ditemui di rumahnya Jumat pekan lalu.Sebagian kostum-kostum itu, didapat dari hasil mengorek-ngorek tumpukan sampah. Beberapa kostumnya dibuat sendiri dari barang bekas. Seperti topeng-topengan, gozila atau topeng tentara Romawi. “Setiap hari nyentrik dan harus selalu gaya,” cerita Sutrisno, yang mengaku senang menonton film perang ketika masih remaja.Hari itu, usai mandi, sekira pukul 14.10 WIB, Sutrisno mengenakan kostum yang tampak seperti mantan Presiden Soeharto. Dia menjelaskan, semalam mendengarkan radio bahwa ada beberapa topik berita mengenai Presiden Soeharto, maka kostum mirip Soeharto hari itu sengaja dipilih. Memang tidak terlalu persis. Sutrisno mengenakan caping, kemeja putih, dasi merah, dan jas biru dongker yang sudah lusuh. Tapi setidaknya itu lah kostum terbaik yang dia miliki untuk berdandan ala Soeharto.“Saya pernah mengenakan berbagai macam kostum, dari kostum kerajaan Cina, kerajaan India, kostum Valentino Rossi, kostum bayi, kostum guru, bermacam-macam pokoknya. Tetapi yang pasti ketika ada momentum, saya mengenakan sesuai momentum itu, misalnya hari Pahlawan, atau yang lainnya,” jelasnya sambil merapikan dasi dan mematut diri di depan cermin.Jarak antara pertigaan Kutisari, dan rumah Sutrisno berjarak sekitar 500 meter. Perjalanan itu ditempuh dengan mengayuh becak dengan membawa bendera berwarna merah untuk memudahkan tugasnya mengatur lalu lintas di pertigaan yang menghubungkan Jalan Ahmad Yani, Kutisari dan Rungkut itu.Mungkin tidak sekadar memudahkan pengguna jalan berseliweran di pertigaan itu. Keberadaan Sutrisno juga cukup menghibur para pengguna jalan. Sehingga banyak yang rela merogoh koceknya karena merasa terhibur dibanding merasa terbantu oleh Sutrisno. Dari kebaikan pengguna jalan itu, jika dirata-rata, Sutrisno mengaku bisa mengantongi Rp100 ribu per hari. Seorang pengendara mobil katanya bahkan pernah memberinya Rp100 ribu. “Saya kerja mulai 2 siang sampai sekira 10 malam, sampai mobil sepi,” katanya. Selama ini Sutrisno sering sekali dianggap gila oleh sebagian besar masyarakat, Mengenai anggapan itu, Sutrinso mengaku tidak ambil pusing dia hanya bisa tertawa.“Sering saya dianggap gila banyak orang. Ya saya cuma bisa tertawa saja, sebab jika saya gila, saya bakal tidak akan mempedulikan lalu lintas,” ungkap anak kelima dari 17 bersaudara pasangan Bapak Tokio dan Ibu Salwati yang berasal dari Kota Banyuwangi ini. Gaya hidup Sutrisno yang nyentrik, juga terlihat dari kondisi rumahnya di Jalan Kutisari Selatan bernomor 15.Tempat tinggal lelaki kelahiran 9 November 1958 ini tampak penuh sampah kotor, sebagian tergenang air, serta terlihat kumuh, meski demikian Sutrisno berpegang teguh pada prinsip hidup yang idealis, tetap konsisten menciptakan keteraturan dalam pekerjaan. “Ya, meski tidak tampak baik, tidak pantas disebut rumah, saya tetap senang bertempat tinggal di sini. Sejarahnya panjang, tanah yang saya tempati ini menuai persengketaan. Sampai 200 tahun pun bila dijual tidak ada yang mau membeli,” paparnya, sembari membersihkan sepatu.Dia mengaku, tempat tinggal beratap seng dan terbuat dari papan kayu ini, sebelumnya untuk kandang kambing milik tetangga. Karena tidak ditempati, Sutrisno menggunakannya sebagai rumah singgah.Di dekat tumpukan tempat Sutrisno duduk ada cermin yang dia dapat dari toko bangunan secara gratis, Dia pun menjelaskan tentang kegunaan cermin besar, fungsinya menata diri agar tampak aneh, nyentrik, serta gaya menarik perhatian ketika akan mengatur jalan di pertigaan Kutisari.“Itu ada cermin besar, saya dapat dari barang rongsokan toko, secara cuma-cuma, fungsinya untuk menata diri bercermin saat pakai kostum,” ujar Sutrisno setelah menyulut sebatang rokok dan mengembuskan asapnya. Tumpukan barang terlihat di mana-mana, dan hampir semuanya basah, sebab semalam tempat tinggal Sutrisno diguyur hujan deras. Meski begitu, Sutrisno nampak enjoy saja menjalani hidup. Ya, Sutrisno memang nyentrik. (fit)